Sore itu Ita dan Hepi tengah dalam perjalanan pulang dari kampus
dengan berjalan kaki. Ita, seperti biasa, mengoceh banyak hal sepanjang
jalan hingga mereka berdua melewati persawahan yang cukup luas.
Jauh
di ujung sawah sana, nampak seekor sapi sedang asyik memakan rerumputan
dipinggiran barat laut persawahan tersebut. Melihatnya, remaja putri
tanggung itu merasa memiliki topik pembicaraan baru. Mungkin lebih
tepatnya, bahan untuk menggoda Hepi, sahabatnya.
“Eh, Pi,
Pi !! Awas kamu Pi ! Sapinya ngeliatin kamu lho Pi! Lihat itu Pi?” seru
Ita sambil menunjuk-nunjuk sapi yang masih menyantap makanannya diujung
sawah. Hepi ikut melihat ke arah yang ditunjukkan temannya dengan wajah
agak tidak percaya. Dan Ita memang jelas tengah bercanda kepadanya.
“Pi,
pi.. Hati-hati Pi. Kamu soalnya pakai baju kuning sekarang, sapinya
suka warna kuning lho Pi. Ntar dikejar kamu Pi. Awas lho Pi” lanjut Ita
ngasal meneruskan candaannya. Hepi hanya tertawa kecil menanggapi
temannya.
“Apalah kamu ta? Bercandanya gak lucu” ujar Hepi kemudian sembari terus melangkah menyusuri jalan.
Ita
tak mau berhenti. “ Ih, iya lho Pi. Lihat deh tu, sapinya ngelihat kamu
terus! Hati-hati Pi, nanti kamu bisa-bisa dikejar lho Pi,” tambah Ita
menakut-nakuti sambil cengengesan.
Akhirnya karena Hepi
tak menanggapi lagi canda yang ia lontarkan, Ita memilih diam. Namun
tetap memasang wajah nyengir tanpa dosanya. Mencoba mencari ide lain.
Akan
tetapi, ketika sepuluh meter lagi mereka hampir tiba dipenghujung
perempatan penghabisan sawah yang baru dipanen itu, terjadi suatu hal
yang tak disangka-sangka. Apa itu? Sapi yang sedari tadi dijadikan bahan
bercanda Ita mendadak sungguhan berlari mengejar kearah mereka dari
seberang sawah sana bagai kelinci yang tengah berlari melompat-lompat.
Ita yang tak sengaja kembali melihat kearah sapi tadi segera berseru
kencang,
“Wiiiiih, LAARIII PIIIII.... !!!”
Hepi
yang sontak melihat ikut terkaget-kaget. Kedua sahabat itu kemudian
lari terpontang-panting semampu mereka menuju ke perempatan itu. Ita dan
Hepi yang sudah kadung ketakutan diseruduk itu segera menyeberangi
jalanan yang dilalui kendaraan itu ke arah berlainan dengan jantung
berdebar kencang. Tak peduli kemana langkah membawa. Sejauh mungkin
mereka berusaha menghindar. Padahal mereka satu kos. Namun lihatlah,
kedua remaja itu bahkan lari kesana dan kesini. Hepi bahkan refleks
memegang tangan ibu-ibu diseberang jalan. Sementara Ita malah berlari ke
arah yang berlawanan dengan arah pulangnya.
Selepas dari
kejaran sapi yang terhalangi lalu lalang motor dan mobil itu, Ita pulang
dengan rasa ketakutan yang masih menyelimut. Hingga sesampainya
dirumah, tanpa ba-bi-bu ia segera memberitahukan kakaknya apa yang
dialaminya barusan lewat telfon.
“Kak! Kak Iki !! Tahu nggak?!” Ita masih berusaha mengatur napasnya yang masih tersengal.
“Enggak.” Suara diseberang terdengar cepat menjawab diiringi tawa kecil. Membuat yang bertanya agak sedikit bete.
“Eh, Kak Iki ini. Aku kan belum selesai cerita. Dengerin dulu lah kak?” Gadis usia 19 tahun itu cemberut seketika, kesal.
“Iya habisnya kamu, belum salam, langsung nodong kakak kayak begitu. Ya sudah deh, kenapa, kenapa? Assalamu’alaikum dulu tapi,”
Dibilangi seperti itu, Ita jadi nyengir. Setelah menjawab salam, mulailah ia bercerita
“Begini
Kak, tadi itu aku kan pulang bareng Hepi. Terus bla bla bla..bla bla
bla.. Eh, tahu-tahu kami jadi dikejar beneran lho sama sapinya kak. Aku
sama Hepi saking takut disruduk, gak sadar tadi larinya pada
kemana-kemana. Pikirku yang penting lari dulu. Wih, taubat aku kak,”
Sang kakak lagi-lagi tertawa kecil, “ Masa iya sih?”. Tentu saja Ita mengiyakan, mengangguk-angguk semangat.
“Ita,
ita.. Makanya kamu tuh kalau bicara hati-hati. Kakak baru saja baca
buku ini. Intinya, setiap apa yang kita pikirkan itu bisa memancarkan
energi, entah itu positif atau negatif, ke lingkungan sekitar kita.
Termasuk ke alam dan makhluk-makhluk hidup lainnya. Dan energi yang kita
pancarkan itu, bisa kembali lagi balik kepada kita. Memantul. Sama
seperti ketika kamu mendo’akan yang baik untuk temanmu, malaikat bakal
doakan kebaikan serupa untuk kamu juga. Nah, makanya hati-hati kalau
ngomong. Kata-kata bisa jadi do’a. Baik-baik pula kalau berprasangka.
Kamu juga tahu kan, kalau Allah SWT sesuai dengan prasangka hambaNya.
Tuh, pelajaran sore ini buat kamu. Sapinya jadi beneran ngejar kamu deh,
gara-gara kamu bilang seperti itu terus” jelas kak Iki panjang.
Ita
kembali mengangguk meski Kak Iki tidak melihatnya. “Oh, begitu ya, Kak.
Iya deh, mulai sekarang Ita bakal baik-baik saja kalau bicara. Hmm..
Padahal tadi niatnya cuma bercanda buat nakut-nakutin Hepi lho kak.”
“Huu..
kamu ini. Justru sesama saudara muslim itu dilarang saling
menakut-nakuti satu sama lain. Bercandanya diaminin malaikat itu
jadinya. Kalau bercanda lain kali jangan berlebihan juga, dek”
“Oke ! Siaap Kek!” sahut Ita sambil terkekeh.
“Wah,
baru dibilangin, malah bilangin kakaknya kakek-kakek. Nah itu, awas.
Hati-hati ntar di belakangmu, ada....” Kak Iki balik membalas.
“Ih, ada apa Kak?” Ita sudah agak takut menoleh.
“Ada tas kamu itu belum dilepas”
“Ohh, hehe. Iya, ya. Kok kakak Iki tahu?” Ita melirik kebelakang badannya.
“Kebiasaan kamu kan, dasar. Celoteh mulu sih habis pulang sekolah. Buruan bersih-bersih gih sana.”
“Oke bos! Assalamu’alaikum !!”
“Wa’alaikumussalam.”
***
