Kebanyakan manusia pasti ingin selalu menunjukkan sesuatu yang terbaik miliknya. Entah itu kemampuan dirinya, benda, kedudukan, pengorbanan dan lain-lain. Bahkan ada yang mengatakan eksistensi adalah salah satu kebutuhan fitrah manusia.
Kita analogikan saja ini sebagai kisah tentang seorang anak muda yang sedang berusaha membuat bolu pisang. Beberapa hal dilakukannya agar bolu pisangnya baik. Hingga ternyata jadilah bolu pisang tersebut.
Lantas apa bedanya bolu itu dari bolu pisang lainnya?
Anak muda itu menambahkan sebuah rasa baru di bolunya. Membuat bolu itu sedikit 'berbeda' dari biasanya. Padahal itu pesanan pelanggan. Berani sekali dia bermain-main. Tidakkah ia ingat slogan timnya? Pelanggan adalah raja.
Tapi akhirnya bolu itu sampai juga ditempat sang pelanggan. Dan bolu itu, sepertinya kurang sesuai harapan. Entah itu selera atau bukan, terkadang sesuatu yang menurut kita terbaik, belum tentu ia akan baik pula dimata orang lain. Mungkin sebelum menunjukkan sesuatu yang terbaik versi kita itu, kita bisa membaca situasi dan kondisi sekeliling terlebih dahulu. Apakah hal ini pantas dilakukan atau tidak. Apakah sesuatu itu baik atau tidak jika dilaksanakan. Apakah ia akan mendatangkan akibat buruk atau justru lebih banyak mendatangkan kebaikan. Atau justru kesederhanaan akan lebih baik dibandingkan sikap berlebihan saat berusaha menunjukkan hal yang terbaik milik kita itu?
Ah, kita selalu saja bisa belajar dari setiap potongan episode kehidupan ini.
Bahwa sesuatu yang terbaik itu bahkan bisa tampak ketika ia begitu sederhana. Begitu tulus, tanpa ada rasa ingin menunjukkan. Sesederhana itu.
Seenak bolu pisang biasanya, original. Tak perlu beraneh-aneh, ia sudah begitu memikat hati. Sungguh, ketika suatu sifat yang terbaik itu asli datang dari dalam kejernihan hati. Tak perlu ditampak-tampakkan. Harumnya akan menguar dengan sendirinya. Semerbak mewangi.
Anak muda itu menambahkan sebuah rasa baru di bolunya. Membuat bolu itu sedikit 'berbeda' dari biasanya. Padahal itu pesanan pelanggan. Berani sekali dia bermain-main. Tidakkah ia ingat slogan timnya? Pelanggan adalah raja.
Tapi akhirnya bolu itu sampai juga ditempat sang pelanggan. Dan bolu itu, sepertinya kurang sesuai harapan. Entah itu selera atau bukan, terkadang sesuatu yang menurut kita terbaik, belum tentu ia akan baik pula dimata orang lain. Mungkin sebelum menunjukkan sesuatu yang terbaik versi kita itu, kita bisa membaca situasi dan kondisi sekeliling terlebih dahulu. Apakah hal ini pantas dilakukan atau tidak. Apakah sesuatu itu baik atau tidak jika dilaksanakan. Apakah ia akan mendatangkan akibat buruk atau justru lebih banyak mendatangkan kebaikan. Atau justru kesederhanaan akan lebih baik dibandingkan sikap berlebihan saat berusaha menunjukkan hal yang terbaik milik kita itu?
Ah, kita selalu saja bisa belajar dari setiap potongan episode kehidupan ini.
Bahwa sesuatu yang terbaik itu bahkan bisa tampak ketika ia begitu sederhana. Begitu tulus, tanpa ada rasa ingin menunjukkan. Sesederhana itu.
Seenak bolu pisang biasanya, original. Tak perlu beraneh-aneh, ia sudah begitu memikat hati. Sungguh, ketika suatu sifat yang terbaik itu asli datang dari dalam kejernihan hati. Tak perlu ditampak-tampakkan. Harumnya akan menguar dengan sendirinya. Semerbak mewangi.
