Ardha hanya tak mengerti akan situasi saat ini. Yang dia tahu hanyalah bahwa Bu April masih perduli pada ia dan teman-temannya. Walaupun mereka dipermalukan didepan kelas. Setidaknya itu yang dapat dia simpulkan dari perkataan bapaknya selama ini, "Bapak marah sama kamu berarti bapak masih perduli. Coba kalau bapak sudah gak perduli, bapak diamin kamu. Mau ngapain saja terserah". Baginya sangat mengerikan rasanya 'didiamkan'. Itu lebih menyakitkan. Terakhir kali ibunya pernah begitu marah hingga Ardha 'didiamkan'. Serasa tidak dianggap ada. Tidak diperdulikan. Maka dari itu, walaupun kata-kata Bu April seakan menohok ulu hatinya. Seakan-akan ia satu-satunya murid paling tak beretika. Tapi ia berusaha meyakinkan diri. Semua itu dilakukan gurunya karena ia masih disayang, masih diperdulikan. Seperti itulah penafsiran yang coba ia bangun selama ia dihukum didepan kelas sekarang.
Entah teman-temannya tahu atau tidak, gadis itu sering terlambat akhir-akhir ini bukan karena ia memang telat datang. Meskipun sebelum-sebelumnya geng itu sering telat melakukan ini-itu. Telat bangun, mengantri mandi di kamar mandi asrama, bersiap, telat sarapan pagi, dan aktivitas lainnya. Bukan karena itu, melainkan karena ada tugas yang harus dilakukannya. Menjaga ruangan multimedia sekolah tersebut, ruangan yang seolah menjadi warnet sekolahnya. Ia disana untuk membantu kakak kelasnya. Pekerjaannya selama sebulan ini. Ah tapi apa mau dikata, ia sudah terkena cipratan omelan ibu keduanya disekolah.
Sebelum kelas bubar, Bu April membagikan kertas hasil tugas pekerjaan rumah yang telah dikumpulkan pagi itu. Mereka satu persatu maju untuk mengambilnya. Tiba nama Ardha dipanggil, dia menunduk tak berani melihat Bu April. Setelah mengucap terimakasih ia kembali sambil memperhatikan kertas yang digenggamnya tersebut. Disudut atas kertas double folio itu tertulis coretan pena merah, nilai Ardha beserta sebaris catatan kecil dari beliau.
Esok hari, ia katakan pada penanggung jawab untuk undur diri. Ingin kembali fokus sekolah. Syukurnya ia mendapat upah sepuluh ribu rupiah atas bantuannya menjaga ruangan multimedia sebulan ini. Sudah cukup menyenangkan juga ia bisa mengakses banyak hal secara gratis disana.
Sementara kedua temannya tak terima. Jelas karena mereka juga sering menemani Ardha.
"Kamu kan hampir sebulan ini bantu jaga, sampai malam pula. Ih, kok cuma dikasih segitu ya? Sampai dimarahi ibu guru penjaga asrama. Dipermalukan lagi kemarin dikelas. Sabar ya, dha," ujar Icha sambil menepuk pelan pundak Ardha. Sedangkan Yanda mengangguk membenarkan.
Mereka bertiga sudah sejak lama bersama. Geng Bodo yang cukup dikenal seangkatannya. Ardha, Yanda dan Icha. Mereka sudah terbiasa bersusah senang bersama. Sebagai teman satu kamar asrama dan satu kelas pula. Maka dari itu mereka juga mengerti apa yang dirasakan Ardha. Biarpun orang lain menilai apa, geng mereka adalah geng yang cukup solid.