Pagi itu mereka terlambat lagi. Padahal mereka tinggal di asrama, dekat sekali jaraknya dengan sekolah. Tak butuh waktu lama tuk sampai, berjalan pun paling hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja. Entah sudah yang keberapa kalinya mereka seperti itu ditahun pertama menjadi murid sekolah menengah atas.
Geng beranggotakan tiga gadis muda itu cukup dikenal semua guru di sekolah pinggir kota tersebut. Seperti kebanyakan orang yang lebih cepat mengenal personal yang terbaik maupun yang terburuk. Maka, citra geng tersebut saat ini masuk kedalam kategori mudah dikenal karena karakternya yang kurang baik. Sungguh sayang seribu sayang.
Ardha lupa mimpi apa ia semalam. Sudah kesekian kalinya geng mereka terlambat datang, guru-guru enjoy saja menyilahkan mereka masuk. Biasa saja, tak marah atau bahkan tak acuh. Tapi hari ini berbeda dengan hari sebelumnya. Tak sama. Saat kaki-kaki kecil itu baru memasuki kelas hendak berjalan menuju bangku kosong, Bu April bersuara tegas, "Jangan duduk dulu, silahkan berdiri didepan kelas!"
Mengheningkan seketika murid-murid yang sebelumnya sempat berbisik, tak fokus belajar.
Yang menjadi objek pembicaraan pun segera paham, menurut meski dengan wajah tak suka.
Jelas sekali, sepertinya mereka akan dipermalukan pagi itu.
Dan memang benar, semprotan kata demi kata mengalir lancar untuk mereka bertiga, aktris kelas X-1. Bu April nampak seperti meluapkan amarahnya selama ini kepada geng 'Bodo' yang beranggotakan si juara sekolah. Hingga dipuncaknya, suara lembut itu menjadi semakin berat
" Lebih baik saya mengajar anak-anak yang ber-IQ biasa tapi rendah hati daripada mengajar anak-anak pintar tapi tak mau diajar, kurang beretika. Kalian pikir kami para guru biasa ini harus menghamba-hambakan diri untuk murid seperti itu?"
Pertanyaan itu serasa menusuk tajam telinga Ardha. Wajahnya kebas dalam tundukan. Ia tahu maksud dari gurunya.
Tak ada murid yang berani menjawab. Kelas kembali hening untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Bu April kembali berbicara untuk mempersilahkan mereka ikut belajar meski dengan duduk lesehan didepan kelas. Malu sekali mereka pagi itu. Geram, ingin marah.