Silahkan dibaca jika luang.
***
Alkisah di zaman dahulu kala, ada seorang penjahit di sekitar Jazirah Arab.
Sebut saja beliau sebagai Abdullah. (Karena aku juga tak tahu pasti namanya :D)
Beliau penjahit yang cukup dikenal ahli disana. Banyak orang yang percaya untuk menjahitkan pakaiannya kepada penjahit tersebut. Pun karena memang hasil jahitan beliau juga baik.
Dari kebanyakan pelanggan beliau, tersebutlah seorang dari kaum
seberang yang juga sering memberikan kain untuk dijahitkan oleh beliau.
Kita sebut saja dia si pria dari kaum seberang ini sebagai si Fulan. Dia
selalu menjahitkan pakaiannya di tempat Abdullah.
Ah, tapi apa spesialnya langganan satu ini dari pelanggan jahitannya yang lain sehingga harus kuceritakan?
Bedanya adalah, si Fulan ini selalu membayar Abdullah atas hasil jahitannya dengan uang palsu. Selalu saja begitu sejak awal. Tak pernah ditolak sekalipun uang palsu yang ia jadikan sebagai alat pembayaran tersebut. Makanya ia tak pernah berhenti untuk menjahitkan pakaiannya pada Abdullah.
Hingga suatu waktu, Abdullah harus keluar kota dan meninggalkan urusan jahit-menjahit kepada asistennya. Maka, ketika itu, datanglah si Fulan yang hendak mengambil barang jahitannya. Dan seperti biasa, ia berikan uang palsu yang selama ini digunakannya untuk membayar ongkos jahitan.
Pada saat itu juga, saat asistennya tersebut mengetahui bahwa uang yang akan digunakan untuk membayar itu adalah uang palsu, maka si Fulan ditolaknya. Fulan akhirnya pulang tanpa membawa barang jahitannya. Meski awalnya ia juga sempat heran. Selama ini tak pernah ada penolakan dari Abdullah ketika ia membayar dengan uang palsu.
Ketika Abdullah selesai dari tugasnya dan kembali pulang, sang asistennya dengan mantap dan bersemangat melaporkan usaha penipuan yang telah digagalkannya tersebut.
Dan tahukah kalian?
Si asisten tersebut justru dimarahi oleh Abdullah!
"Apa salah saya tuan sehingga anda marah ketika saya menolak si Fulan tersebut? Padahal dia kan membayar dengan uang palsu?" tanya asistennya heran.
"Ya. Anda tidak salah. Hanya saja kurang benar. Saudaraku, jangan engkau berpikiran selama ini aku tak tahu bahwa ia selalu membayarku dengan uang palsu. Aku tahu kalau ia selalu berusaha menipuku. Dan aku memang selalu menerima uang yang diberikannya hanya saja aku tak pernah memakainya.
Uang palsu itu.. Aku langsung membuangnya kesumur setiap aku mendapatkannya. Kenapa? Tentu saja agar tak ada lagi orang lain yang tertipu akibat uang palsu miliknya. Cukup hanya aku saja. Coba kau bayangkan saat ini, mungkin diluar sana, uang yang tadi kau tolak mungkin saja bukan ia gunakan untuk menipu yang lainnya?" jelas Abdullah kecewa.
Asistennya tersebut hanya terdiam membenarkan perkataan tuannya.
***
Thanks for reading.
#SalamIQRO!
[|RIS]
Ah, tapi apa spesialnya langganan satu ini dari pelanggan jahitannya yang lain sehingga harus kuceritakan?
Bedanya adalah, si Fulan ini selalu membayar Abdullah atas hasil jahitannya dengan uang palsu. Selalu saja begitu sejak awal. Tak pernah ditolak sekalipun uang palsu yang ia jadikan sebagai alat pembayaran tersebut. Makanya ia tak pernah berhenti untuk menjahitkan pakaiannya pada Abdullah.
Hingga suatu waktu, Abdullah harus keluar kota dan meninggalkan urusan jahit-menjahit kepada asistennya. Maka, ketika itu, datanglah si Fulan yang hendak mengambil barang jahitannya. Dan seperti biasa, ia berikan uang palsu yang selama ini digunakannya untuk membayar ongkos jahitan.
Pada saat itu juga, saat asistennya tersebut mengetahui bahwa uang yang akan digunakan untuk membayar itu adalah uang palsu, maka si Fulan ditolaknya. Fulan akhirnya pulang tanpa membawa barang jahitannya. Meski awalnya ia juga sempat heran. Selama ini tak pernah ada penolakan dari Abdullah ketika ia membayar dengan uang palsu.
Ketika Abdullah selesai dari tugasnya dan kembali pulang, sang asistennya dengan mantap dan bersemangat melaporkan usaha penipuan yang telah digagalkannya tersebut.
Dan tahukah kalian?
Si asisten tersebut justru dimarahi oleh Abdullah!
"Apa salah saya tuan sehingga anda marah ketika saya menolak si Fulan tersebut? Padahal dia kan membayar dengan uang palsu?" tanya asistennya heran.
"Ya. Anda tidak salah. Hanya saja kurang benar. Saudaraku, jangan engkau berpikiran selama ini aku tak tahu bahwa ia selalu membayarku dengan uang palsu. Aku tahu kalau ia selalu berusaha menipuku. Dan aku memang selalu menerima uang yang diberikannya hanya saja aku tak pernah memakainya.
Uang palsu itu.. Aku langsung membuangnya kesumur setiap aku mendapatkannya. Kenapa? Tentu saja agar tak ada lagi orang lain yang tertipu akibat uang palsu miliknya. Cukup hanya aku saja. Coba kau bayangkan saat ini, mungkin diluar sana, uang yang tadi kau tolak mungkin saja bukan ia gunakan untuk menipu yang lainnya?" jelas Abdullah kecewa.
Asistennya tersebut hanya terdiam membenarkan perkataan tuannya.
***
Thanks for reading.
#SalamIQRO!
[|RIS]