Monday, December 8, 2014

Prologue of Mardhatillah Seeker

“Ardha, kenapa kau pandangi terus-terusan benih bunga dandelion itu?”

Gadis itu menoleh sejenak,
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa bahwa aku ini sepertinya.
Sedikit saja hembusan angin menerpa. Aku akan dapat beterbangan kemana-mana.
Dasar makhluk memang lemah !
Tapi syukurlah, dengan adanya hembusan kecil itu, aku jadi bisa tersadar tentang kelemahan sejatiku. Bahwa aku memang lemah sebagai makhluk.
Lagipula, aku memang seharusnya bersyukur, kan?
Meski harus terpisah, hembusan kecil itu justru menerbangkanku untuk menemukan jalan baru. Bahkan membawa ku ke tempat tumbuh berkembang yang baru. Yang lebih baik.
Ya. Hembusan kecil itu lagipula cukup menyejukkan.
Hembusan kecil itu, takdir Tuhanku Yang Maha Baik.”

[IRIS]