Friday, December 25, 2015

Cerpen: "Karena Aku, Anak Perempuan Bapak"

Bapak telah dipeluk bumi pagi itu. Namun bagiku, Bapak dan semua teladannya akan tetap selalu hidup didalam hati.
**
Ini rahasia kita. Dan kumohon jangan coba beritahu siapa-siapa. Bahkan adik-kakakku sekalipun. Bahwa semenjak Bapak pergi. Aku selalu merasa harus menjaga keluarga kecil kami. Lebih khususnya menjadi sang penjaga tumbuh kembangnya dua adikku, Dika dan Imam. Yang baru menginjak bangku SMP dan yang sedang duduk dikelas 5 SD.
Itu rahasiaku. Iya, meski aku adalah anak kedua. Dan walau aku hanya seorang anak perempuan Bapak.
**
Lebaran Idul Fitri satu hari lagi. Dan aku baru bersiap mudik hari ini. Padahal kampus sudah begitu sepi sejak beberapa hari yang lalu. Kalian mau bilang aku tidak kangen rumah? Yang benar saja. Aku justru sangat rindu sejak sahur pertama Ramadhan kemarin. Namun penelitian skripsiku di Laboratorium kampus tidak bisa kutinggalkan seenaknya. Jadilah, H-1 aku baru berkesempatan pulang menjumpai keluargaku. Dan syukurnya, perjalanan Jogja-Semarangku tidak macet. Membuat kebahagiaan dihati semakin bertambah-tambah..
“Bu..! Mbak Riri pulang!!”
Belum aku mengucap salam, baru kelihatan ujung hidungku dipengkolan jalan kecil samping rumah, Imam sudah berlarian masuk. Meski sempat tertawa kecil, sejenak kemudian aku pun juga ikut berlari mengejar Imam kedalam rumah. Menjumpai satu-satunya Ibu kami, serta melepas rindu dihati untuk semua anggota keluarga yang selalu ingin kujaga semampuku.
**
“Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar..
Laa ilaaha illallaahu.. Allaahu akbar.
Allaahu akbar.. Wa lillaahilhamdu.”
Takbir bergema disetiap sudut kota. Semua orang tampak bersemangat menyerukan suara kemenangan setelah berpuasa sebulan lamanya. Membuat hati demi hati yang mendengar bergetar karena buncah rasa syukur. Pun juga mengingatkan sebagian hati yang menatap langit cerah pagi ini, bahwa perjuangan justru kembali dimulai dan bukan berakhir. Perjuangan meramadhankan setiap hari yang berganti.
“Dik, besok mbak Riri titip salam ya sama si Mbah Putri,” ujarku di jalan, setelah menyelesaikan tur silaturrahim satu gang bersama keluargaku.
“Mbak, benar tidak jadi ikut ke kampung Bapak?” Dika menanggapi.
“Iya, nggak apa-apa. Mbak jaga rumah saja. Kalian hati-hati berempat besok ya?”
Dika menatapku. Tersenyum meyakinkan. “Oke, sip mbak! Insya Allah.”
**
Dan hari pertama lebaran berlalu dengan kunjungan beberapa tetangga dan sanak saudara yang lebih sepi dari sebelum-sebelumnya. Sebab nenek –ibu dari Ibuku– juga baru menghadap Illahi pertengahan Ramadhan kemarin. Tapi tak mengapa. Karena didunia ini, sebenarnya ada banyak hal yang diambil, tanpa mengambil apapun. Seperti diberi, tanpa memilikinya secara utuh. Layaknya semua yang ada pada diri kita, sejatinya tak pernah kita punyai. Jadi ketika Tuhan mengambilnya, maka kita harus rela melepaskan, sesedih apapun. Karena itu memang milik-Nya. Bahkan diri kita sekalipun.
“Mbak Riri… ada lihat ikat pinggang Imam tidak?” teriakan Imam menyadarkan lamunanku. Adik laki-laki terkecilku sudah ganteng sepagi ini. Hanya kurang ikat pinggang yang lupa semalam dimana ditaruhnya.
“Itu didalam lemari, tadi malam mbak gulung,” sahutku dari ruang tengah. Terdengar tawanya ketika berhasil menemukan barang yang dicari. “Makanya, adek cari dulu baik-baik,” aku meledek, menggarai Imam.
“Iya, iya. Makasih mbak,” jawab si bungsu dari kamar.
“Namanya juga Imam, Ri” Ibu tertawa kecil disampingku. Mereka bertiga –Ibu, mas Rifki dan Dika– sudah siap dan duduk manis diruang tengah bersamaku. Tinggal menunggu Imam.
 Jam delapan kurang sembilan menit. Sebentar lagi mereka akan berangkat dari rumah menuju terminal, naik bus antarkota ke Solo. Tiga menit kemudian, Imam pun selesai dengan persiapannya.“Ya sudah, Ibu sama adik-adik juga mas mu pergi dulu ya. Titip rumah,” pamit Ibu dengan senyum khasnya.
“Iya bu, hati-hati dijalan. Sampaikan salam Riri buat si Mbah Putri di Solo ya, bu.”
 Ibu mengangguk. “Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah,” aku melepas kepergian mereka dipintu rumah setelah mengacak-acak rambut Imam, bilang jangan rewel. Yang tentu saja dibalas raut kesal Imam sebab tadi sudah rapih disisirnya.
Dan aku memang tidak ditinggal sendirian. Ada Tanteku, adik Ibu, yang juga menjaga rumah bersamaku. Dan pamanku, kakak Ibu, rumahnya tak jauh pula didepan rumah kami. Tidak ada yang perlu ditakutkan.
Maka hari itu, setelah mereka pergi kuputuskan untuk membereskan kamar Ibu. Sementara Tante diajak pergi jalan-jalan sebentar oleh Paman untuk menghilangkan kesedihan hati yang mungkin masih tersisa. Sebab Tanteku adalah yang paling terdekat dengan mendiang nenek.
Adalah Ibu, seseorang yang cukup sibuk dirumah. Mengerjakan banyak hal sekaligus sendirian. Jadi maklum saja jika semua tak bisa begitu sempurna di bereskannya. Apalagi adik-adik juga masih agak kecil, belum terlalu bisa mengurus diri sendiri.
Dirumah sederhana kami hanya ada tiga kamar. Bahkan itu jika tempat mas Rifki beristirahat bisa disebut kamar, sebab memang tidak ada sekat dinding penutupnya. Satu kamar milik Tante dan mendiang nenekku sebelumnya. Satu lagi kamar Ibu juga adik terkecilku, Imam. Dulu Dika juga masih tidur bersama Ibu dikamar ini. Tapi semenjak Dika sudah sunat enam bulan lalu dan baligh, dia pindah menemani Mas Rifki. Dan aku, jika pulang menginap, tidur dimana saja tidak masalah. Bisa menyelip ditengah nenek dan tante. Dikamar Ibu yang hangat. Atau di kursi kayu panjang ruang tengah. Aku memang satu-satunya anak perempuan Bapak dikeluarga sederhana kami. Kadang bisa sok tomboi dan kadang bisa sok feminine juga. Tergantung situasi kondisi, hehe. Jadilah, pagi ini sisi femininku bekerja.Aku akan membantu meringankan sedikit tugas Ibu. Merapikan kamar yang kadang suka diberantakkankembali oleh dua adikku tersayang. Tidak mengapa jika rapinya tak bsa bertahan lebih lama jika mereka sudah pulang besok. Yang terpenting, semoga ada senyum yang bisa kulukis saat Ibu melihat kamarnya rapih dan beres.
Seperti pekerjaan merapikan biasanya, maka ku mulai membereskan kamar dengan membongkar barang-barang yang ada. Memilah dan memilih. Barang yang masih penting, tetap disimpan. Barang yang sudah habis kegunaannya, tidak lagi penting, kusisihkan untuk dibuang. Apalagi dua bocah kecil itu banyak menyerundukkan kardus-karus dibawah tempat tidur Ibu. Dasar. Dan sesekali aku terbatuk-batuk hingga bersin berkali-kali karena debu yang beterbangan. Kadang tersenyum sendiri jika ingat lagi Ibu yang pastisenang melihat kamarnya nanti. Terus menyapu debu yang menempel dibuku-buku dengan kemoceng. Hingga ketika tanganku menemukan kotak kecil didalam salah satu kardus dikolong kasur, aku benar-benar terkejut saat membuka isi kertas demi kertas didalam kotak tersebut.
Dari lipatan –lipatan lembaran kertas itu aku sungguh baru tahu. Satu adikku ternyata sudah pandai menulis sekarang. Menulis sesuatu yang benar-benar mengagetkan diriku. Maka dengan hati yang sedikit naik pitam, kusisihkan kotak kecil itu segera. Dan berhenti sejenak menenangkan diri mencari solusi terbaik.
Aku, anak perempuan Bapak satu-satunya. Yang mengerti untuk ganti meneruskan tugas Bapak menjaga adik-adikku dalam proses tumbuh kembangnya. Dan sekarang, yang baru aku sadari, aku telah kecurian. Adik-adikku tersayang, sungguh aku belum mampu menjaga mereka sepenuhnya. Dan bulir air mata keluar begitu saja membasahi pipiku. Rasa bersalah pada Bapak serasa memelukku erat kini. Mengungkung hingga kedalam hati.
**
Azan maghrib baru saja terdengar berkumandang menghiasi langit kota kami. Kamar Ibu sudah rapi sejak satu jam yang lalu. Aku juga sudah bersih-bersih diri dan mengambil wudhu. Sajadah kugelar dilantai. Beranjak mengucap niat, aku memulai shalatku.
Tidak seperti biasanya, selesai salam aku hanya bisa duduk termenung memandangi sajadah yang terhampar dihadapan. Menggeming. Tidak tahu harus berkata apa. Seolah tak mampu pula aku menadahkan tangan. Yang aku tahu, Allah pasti telah mengetahui segalanya. Termasuk isi hatiku.
Aku masih diam termangu. Hingga beberapa saat kemudian satu bulir air keluar dari pelupuk mata. Disusul bulir demi bulir berikutnya. Refleks, akupun tergerak untuk menyungkur bersujud. Menangis sejadinya. Mohon kekuatan pada Sang Illahi Rabbi.
“Allah… Sungguh tidak ada daya dan upaya melainkan dari Engkau, Rabb..”. Meski suara serak mengeluarkannya, hanya itulah satu-satunya kalimat yang bisa kuucap sekarang.
Ya. Keluarga kita adalah keluarga kita sampai akhir. Yang semoga saja bersatu kembali dalam syurga-Nya esok.
Siapa yang tega dan tak merasa sakit jika diantara kita mesti berpisah nanti? Apalagi jika terpisah dalam keadaan yang lain menderita kelak karena siksa-Nya. Dan sungguh aku tak ingin. Maka detik itu, saat aku sadar tak bisa selalu mengawasi dan menjaga mereka, adik-adikku tersayang, keluargaku, dari jarak yang dekat. Aku tahu harus menyerahkan kepada siapa duduk masalahku. Dan sudah tentu, jawabannya hanyalah kepada Allah. Karena cukuplah Allah sebagai sebaik-baik wakil. Pemelihara terbaik.
Dalam sujud aku masih tersedu sedan. Ku tarik lagi nafasku panjang.
“Allah, Engkau satu-satunya Tuhanku yang Maha mendengar.. Mulai saat ini hanya kepadaMu kutumpukan semua harapan untuk menjaga keluargaku agar selalu baik-baik saja dan dalam kebenaran selamanya. Saat aku tak lagi bisa membimbing disamping dan menemani perjalanan begitu dekat disisi”.
Aku kembali terduduk. Menangkupkan kedua tangan diwajah, mengaminkan. Sujudku berakhir dengan perasaan yang begitu lega. Rasa sedih yang sedari tadi menjalar mulai lepas memudar. Aku mengusap bekas tangis yang masih tersisa dengan tangan. Esok pagi, aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.
**
Matahari tengah bersinar terik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang kurang sebelas menit. Aku sedang bersama Tanteku di ruang makan. Mengajaknya bercanda dengan isyaratku. Ya, karena beliau tunarungu setelah kecelakaan dimasa kecilnya. Jadilah, rumah ini akan sangat sepi saat yang lainnya pergi. Apalagi setelah nenek tiada. Tak ada lagi yang cerewet mengomeliku seperti dulu. Dan aku tahu tugasku untuk menemani Tante dirumah. Merelakan kesempatan ke kampung Bapak bersama yang lain kemarin.
“Ini enak sekali,” aku mengangguk-angguk berkomentar sambil menggerakkan tangan menunjuk masakan yang terhidang dan mengekspresikan wajah puas usai makan. Membuat Tante seperti berkata “Ya iyalah, Tante yang masak, bukan kamu”. Kemudian ia tertawa kecil berikutnya, meledekku. Sewaktu aku berpura-pura merengut memasang tampang cemberut, terdengar bunyi pintu depan terbuka.
“Assalamu’alaikum..! Kami pulang!!” suara cempreng Imam terdengar amat nyaring. Diikuti salam dari yang lain setelahnya.
“Wa’alaikumussalam..” jawabku dari ruang makan.
Setelah kuletakkan piringku di belakang, aku segera melangkah menuju ruang tengah.
“Wah, sudah pulang nih dek? Mana oleh-olehnya untuk mbak?” aku mengacak-acak lagi rambut Imam, gemas. Kemudian menyalami Ibu yang kulirik langsung melepas penat ke kamar. Menjadikan aku tersenyum dalam hati. Berharap semoga Ibu senang.
Dika dan mas Rifki kujumpai kemudian. Menyalami mereka satu per satu.
“Oleh-oleh apa? Mbak kan tidak minta kemarin.” Imam memasang tampang polosnya.
“Oh..begitu? Ya sudah, besok kalau mbak Riri balik ke Jogja tidak usah bawa oleh-oleh lagi lah,” aku menggoda adikku. Yang sekilas dilirik langsung merengek memegangi lenganku. “Yah, mbak Riri jangan begitu dong,”
Aku tertawa puas. Dasar Imam adikku yang paling menggemaskan.
“Ya sudah, ayo-ayo makan dulu semuanya. Setelah itu langsung shalat,” ujarku mengingatkan.
“Makan?” Dika berseru, “Oh sudah pasti itu..”
Dika yang sepertinya sudah daritadi merasa lapar pun mengajak kakak dan adiknya juga ke ruang makan. Meninggalkan aku yang tersenyum menatap mereka.
**
Dika mengimami Imam shalat zhuhur dikamar Ibu. Dan aku menunggu mereka selesai ditempat yang sama. Sambil kembali membaca ulang kertas ditanganku. Sepucuk surat istimewa untuk salah satu adik spesialku yang kutulis semalam.
Mereka sudah mengakhiri shalat dengan salam. Usai berdo’a, Imam yang sempat heran melihatku justru dipanggil Ibu menjaga warung depan rumah disaat ia nampak hendak bertanya.
Dika baru saja melipat sajadahnya ketika aku mulai akan bicara padanya. “Dik, boleh Mbak Riri mengobrol dengan kamu sebentar?” Aku mengambil nafas panjang. Menghembuskannya perlahan kemudian.
“Sini kamu duduk dekat Mbak,” lanjutku lagi.
Meski sejenak mengerutkan kening, Dika menurut.
“Ada apa Mbak?” Dika bertanya setelah mengambil posisi duduk yang pas baginya. Sepertinya dia tahu ini akan jadi acara mengobrol yang cukup lama.
Aku mengulum senyum sejenak. Mengucap bismillah dalam hati.
“Begini Dik, sebelumnya Mbak minta maaf ya?” Aku berhenti sebentar membuat Dika bingung. “Karena kemarin sewaktu merapikan kamar Ibu ini, Mbak Riri menemukan kotak kecil biru dibawah tempat tidur dan lembaran kertas-kertas kamu didalamnya. Maafkan Mbak yang melihat isi surat-surat kamu, sebab niat awal Mbak cuma ingin memisahkan barang yang tidak penting biar kamar Ibu rapi.”
Dan kalimat pembuka dariku itu sempurna membuat kerut di kening Dika memudar seketika. Aku tahu dia terkejut. Adikku satu itu langsung menunduk. Maka disaat itulah aku mengulurkan sepucuk suratku untuknya. “Ini, mbak tulis semalam untuk kamu. Dan Mbak Riri harap kamu mau baca ini, Dik.”
Dika menatapku sekilas. Lalu mengambil surat itu dari juluran tanganku. Sambil membaca tulisan didalam surat tersebut, aku tetap menjelaskan maksud yang hendak kusampaikan kepadanya. Dika memang jadi lebih banyak diam mendengarkan sampai acara mengobrol kami selesai. Tapi aku yakin, Dika juga anak Bapak yang mengerti untuk selalu berusahamenjadi anak baik.Dan surat-surat dari seorang remaja putri untuk adikku itu, aku tak tahu akan diapakan lagi oleh Dika. Sebab diakhir obrolan, Dika bilang mulai saat ini berjanji akan belajar mengendalikan hatinya dengan benar. Seperti Ali dan Fatimah, yang kisahnya kuselipkan pula dalam isi suratku.
Ya. Terkadang kita memang harus bertarung dalam memberikan pemahaman baik kepada orang-orang yang disayang. Bertarung dengan siapa? Tentu saja dengan keadaan zaman yang semakin memprihatinkan. Tontonan yang kurang mendidik, lingkungan luar yang kadang seakan membenarkan penyimpangan. Benar, dengan semua itulah kita mesti bertarung. Dan agama dengan semua rasionalitasnya yang sempurna ialah benteng serta perisai yang selalu bisa menguatkan pertahanan.
Dan beginilah, aku berpikir tidak ada salahnya menceritakan kisah-kisah hebat yang nyata lagi menakjubkan itu kepada adik-adik kita. Karena semakin hari, tontonan yang seolah mewajarkan pacaran semakin marak. Baik di televisi maupun didunia nyata. Maka kepada adik-adikku tersayang, aku merasa tak apa-apa memberikan pelajaran terbaik lewat kisah yang ada. Sungguh jalan kita masih panjang. Semoga setelah ini, pemahaman untuk terus saja menjadi diri yang baik selalu menemani langkah mereka.
Dan benar sikap dari satu teladan kita. Ali bin Abi Thalib ra. Ketika perasaan itu hadir, hanya ada dua pilihan. Dialah perjuangan atau pengorbanan. Karena jalan kita masih panjang, maka melepaskan adalah salah satu solusi terbaik demi mencari keridhaan-Nya selagi kesempatan dan kesiapan belum hadir. Dan tak mengapa bila nanti tidak bertemu kembali dengan yang diharapkan. Akan ada ganti yang lebih baik. Seperti cerita antara Umar dan putrinya Hafshah, Utsman, serta Rasulullah saw. Aku yakinkan Dika bahwa pasti skenario-Nya lebih baik lagi.
Ya. Sekali lagi, bagiku duduk bercengkerama membahas hal seperti itu dengan adik-adik tersayang tidaklah mengapa. Justru, pemahaman baik sejak awal semoga bisa menjadi pacuan semangat untuk meninggalkan yang salah.
Dan inilah aku, anak perempuan Bapak, yang akan tegas membenarkan kebenaran dan meneladankannya kepada keluargaku, khususnya adik-adikku. Menyadarkan kesalahan dan meluruskannya semampuku. Sebab yang ramai orang mengerjakan juga belum tentu benar.

Ya. Akulah anak perempuan Bapak. Akan kujadikan diriku tameng terdekat mereka dalam memfilter hal-hal diluar. Dan dengan do’a ku dari kejauhan. Dimanapun dan kapanpun, semoga Tuhanku selalu melindungi mereka dalam kebaikan. Dan semoga saja kelak bisa kami dipertemukan kembali di syurga-Nya. Sungguh akan selalu menyenangkan membayangkannya. Saat semua anak-anak Bapak dan Ibu membanggakan dunia akhirat.Dan itu sungguh satu rahasiaku pula. Cita-cita terbesarku. Kumohon, jangan bilang-bilang pada adik juga kakakku ya?!
** T A M A T **


Tuesday, December 8, 2015

Resensi Novel: Bulan Terbelah di Langit Amerika


Ini bukan hanya sekedar kisah petualangan seorang reporter wanita yang ditugaskan membuat artikel “Would the world be better without Islam?” demi menyelamatkan koran berita tempatnya bekerja –Heute ist Wunderbar, Today is Wonderful.

Pun ini juga bukan cerita biasa perjalanan seorang pria -asisten profesor- yang diamanati memburu seorang filantropi dunia sekaligus mewujudkan impian besarnya di Negeri Paman Sam, Amerika.

Tapi ini adalah tentang salah satu grand design atas sepasang suami istri tersebut, yang dihadirkan Sang Pemilik Sejati Rembulan. Yang mengabulkan permohonan ciptaan-Nya, bulan, untuk menunjukkan ‘Rima Ariadaeus’-nya kepada semua orang. Sebagai bukti keajaiban. Untuk menyatukan yang dulu pernah terbelah.

Dan ini pula tentang Amerika dan Islam. Yang sejak 11 September 2001, hubungan keduanya berubah. Maka bagaimanakah desain yang diciptakan-Nya bagi kedua sejoli ini dalam menemukan ‘Rima Ariadaeus’ milik Sang Rembulan? Lalu bagaimana akhir nasib artikel penyelamat Heute ist Wunderbar, yang justru seakan menggiring opini untuk memojokkan keyakinan reporter ini?

Hari itu, tatkala revolusi bulan berputar melewati dua gedung kembar yang telah luluh lantak tak berbentuk, tak dinyana ada sebuah jawaban dari Sang Maha Besar yang terselip diantaranya. Jawaban yang dinanti-nanti mereka yang kehilangan belahan jiwanya dalam keterseok-seokan pencariannya ditengah haru-biru hidup yang memisahkan secara paksa dan tiba-tiba. Lalu apakah jawaban tersebut mampu ditangkap oleh kedua sejoli ini -yang ternyata mesti dipisahkan diperjalanan oleh Tuhan mereka pula?

And do you think the world would be better without Islam?
Maka biarkanlah bisikan suara yang keluar dari hatimu usai mendengar kisah “Bulan Terbelah di Langit Amerika” menjawabnya.

Dan bacalah. Semoga kau pun segera tahu jua untuk menjaga ‘kedua menara kembar’ sejati dihidupmu sesungguhnya. Ya. Agar kita sama-sama bisa bantu membuktikan. Bahwa tanpa Islam, dunia akan haus kedamaian. Sekali lagi sungguh, bacalah. Moga setelahnya, hari-harimu semakin meluarbiasa, dengan kedua menara kembarmu yang semakin kau pegang teguh.

Dan satu buku ini akan segera menghampiri Milion (Mini library of Nurul Iman). Silahkan pinjam nanti :)