Monday, May 25, 2015

Fajar di Istanbul


#Prolog

     Bintang-bintang mulai menghilang diatas langit. Menyisakan bulan yang semakin memudar cahayanya. Fajar. Adalah waktu yang paling kusukai. Saat angin lembut dan semerbak kesegaran embun menyapa. Ketika suara-suara penyeru itu memanggil. Membuat semakin terasa dekat dengan Sang Pencipta. Mengingatkanku pula pada dia yang juga tak ku pungkiri mendekatkanku pada-Nya. Kepada Ia, Sang Pemilik segala kebaikan.
     Menyegarkan. Setiap pagi tak hentinya kebiasaan ini kulakukan. Berdiri di tepi pagar balkon rumah, menghirup udara pagi sambil menikmati pemandangan persawahan didepan rumah, diiringi dengan lantunan favoritku itu, Al-Fajr. Selalu kusisihkan waktuku dipukul 05.00 hingga dua belas menit kemudian. Suamiku tak pernah melarang. Mungkin karena aku telah meminta izin padanya dahulu. Atau memang karena kebaikan hatinya, aku tak tahu pasti. Terkadang, jika sedang tidak sibuk, dia pun ikut menemaniku. Menghabiskan waktu bersama di waktu yang kusukai. Tetapi hari ini dan seterusnya, aku takkan pernah bisa lagi mengulang masa-masa indah itu. Mas Raihan tak lagi bisa menemaniku dirumah kecil kami ini. Dia tak lagi disini.
     Aku sedang mengingat masa pertemuanku dengannya, ketika si kecil Fajri berlari-lari ke arahku.
     "Ibu, Ibu..! Kak Muthmainnah nakal, Bu. Masa kata kakak, Ibu nanti tidak mau ambilkan rapor Fajri hari ini? Kakak bohong, kan, Bu?"
     Fajri mengadu dengan memajukan bibir mungilnya. Lihatlah, ia masih sangat lucu dan menggemaskan. Pantas saja Muthi suka mengganggu. Selalu menyenangkan melihat raut wajah Fajri jika sudah begini.
     "Wah, kalau Kak Muthi tidak bohong bagaimana?" tanyaku balik setelah bertekuk menyamakan tinggiku dengannya sembari memegang bahu putra tersayangku yang baru duduk di kelas tiga SD ini.
     Wajah Fajri sontak merengut, tidak percaya.
     "Yah, Ibu kok begitu? Tidak asyik, Fajri tidak suka. Pokoknya nanti Ibu harus datang, kalau tidak, Fajri tidak mau berangkat,"
     "Lho, memangnya tadi Ibu bilang, Ibu tidak akan datang?"
     Fajri terlihat mencerna kalimatku barusan, lalu nampak mengingat percakapan kami sejak awal. Detik berikutnya, putra kecilku ini nyengir sendiri. Membuatku tak kuasa untuk mengacak-acak rambutnya pelan, gemas.
    "Tentu saja Ibu datang. Kan, Ibu mau lihat anak shalih Ibu juga pintar disekolah. Nah, sekarang kamu bilang ke Kakak ya. 'Kakak, Ibu bilang kalau Kakak tidak bohong dan jujur, nanti Allah kasih surga. Kalau kakak bohong, berarti.... Kakak harus istighfar dan minta maaf'. Oke?"
    Belum selesai kalimatku, Fajri segera berlari masuk ke dalam. Pasti senang sekali jika kakaknya harus kalah dan minta maaf padanya.
Memandang putraku yang gembira, aku menghembuskan napas lega. Anak-anak, merekalah salah satu kebahagiaan yang masih kumiliki sekarang. Terimakasih Tuhan.

    Aku kembali memandang langit yang mulai berubah cerah. Hingga kurasa cukup sudah, aku akan memulai pagiku yang baru ini. Meninggalkan sejenak memori-memori indah itu disini. Hilang menguap bersama fajar yang telah berganti. 

***

#Dua pencari Fajar

Usai menghadiri syukuran pernikahan itu, kuputuskan untuk melanjutkan proses tawaran pemindahan tempat kerja ke luar negeri dari atasanku tersebut.
   "Mar.. Mardhatillah?" Elsa memanggilku pelan. Membuyarkan lamunanku seketika. Ternyata dia sudah kembali dari kamar mandi. Ah, aku ketahuan.
   "Kamu masih kepikiran ya?" tanya gadis berumur dua puluh tiga tahuin itu menyelidik.
   " Tidak, kok. Aku hanya sedang mengingat keluargaku, bagaimana nanti jika mereka rindu aku sementara aku sedang di LN nanti. Itu saja," aku berkelit.
   Dari gestur wajahnya, ia jelas tak percaya. "Kamu tidak bisa bohong dengan tipuan itu, Mar. Bukankah kamu lebih paham IT dariku. Apalagi zaman semakin canggih ini. Alasanmu kurang tepat, Mar."
   Baiklah, Elsa benar. Untuk orang yang sudah 7 tahun lebih mengenalku itu, bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah berkelit darinya. Aku terlalu bodoh mencari alasan. Untuk kemudian, hanya membuatku menertawai diri sendiri. Kekehan yang semakin menyesakkan hati.
   "Kau jadi ingin ke Istanbul, Mar? Keputusanmu ini bukan karena kau ingin lari dari kenyataan, kan?"
   Degh!
   Tenggorokanku serasa tercekat. Elsa begitu pandai menebakku. Lidahku sungguh terasa kelu.
   "A.. Aku.. aku tidak tahu, Sa"
   Elsa tampak menghela napas panjang. "Mar.. Mar.. semoga waktu selalu berbaik hati padamu. Tak mengapa, pergilah kawan jika memang itu yang terbaik". Elsa menepuk-nepuk pundakku. Seakan mentransfer energi positif yang selalu dimilikinya. Seolah memberikan kekuatan dan semangat baru.

   Elsa. Kukira dia akan marah dengan keputusanku ini. Menganggapku sebagai pengecut. Tapi ternyata tidak. Syukurlah. Jika Elsa, sahabatku yang paling bijak itu pun sudah menyemangati. Aku benar-benar yakin dengan keputusanku ini. Istanbul, tunggu dan terimalah kedatangan jiwa yang ingin mencari ketenangan ini.

Thursday, May 14, 2015

Pendidikan mental & moral untukmu, Nak..

Masa-masa percobaan pertama, aku membuat kesalahan.
Setelah berusaha menahannya begitu lama, ketika berjumpa lagi dengan beliau, air mataku akhirnya tumpah tak tertahankan.
Ah malunya aku, sampai beliau--dosen favoritku itu--ikut mengusap bulir air yang masih tersisa di pipi itu.

Pagi kemarin itulah, aku mendapatkan pendidikan mental tersebut.
Aku diajak beliau duduk kemudian, seakan hendak berbicara pada anak perempuannya sendiri.

"Nak, kesalahan, kegagalan itu hal biasa. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.
Kita semua perlu proses, jalani saja dahulu yg sekarang kamu bisa lakukan.
Jangan merasa bersalah, jangan merasa mengecewakan, jangan takut tertinggal, jangan terburu-buru karena melihat teman-teman lain sudah banyak yang penelitian. Kita semua punya prosesnya, nikmati dan jalani saja."

Beliau juga pernah mengalami yang lebih pahit. Seharian mengerjakan penelitian ini itu, tapi pada akhirnya tak ada hasil. Tak sesuai dengan yg diharapkan dan dibayangkan dosen pembimbing beliau juga. Padahal sudah merasa benar yang dilakukan.

"Temanmu itu juga, dia justru sudah mengalami yang kamu rasakan. Dia juga takut, sudah bahannya lebih mahal, susah didapatkan, berkali-kali gagal pula,tapi tidak mengapa. Justru itulah yang lebih baik, lebih menyenangkan saya. Kita semua jadi bisa merasa belajar. Belajar untuk mencari yang lebih benar.
Sama seperti proposal. Tanda tangan dosen pembimbing itu mudah sekali saya berikan. Tanda tangan tinggal ditanda tangani saja. Tapi, jika saya langsung tandatangani, apa kalian akan tahu mana yang salah, mana yg lebih baik. Apa kalian akan mudah mendekati sesuatu yg benar, mendapatkannya? Maka disinilah kita sama-sama belajar untuk mendapatkan yang lebih baik.

"Kamu tahu, Nak. Saya selama menempuh pendidikan tak pernah mengalami hambatan. Tapi, justru ketika mulai memasuki dunia kerja, ujian itu mulai datang. Kita melakukan ini-itu serba salah. Padahal saat dia merekrut kita, seharusnya dia percaya kita mampu, kan.
Nah, yang harus kamu ingat adalah, ketika sesuatu/seseorang mempercayaimu, memintamu bekerjasama untuknya, maka percaya diri sajalah. Terkadang kita juga perlu 'ndhablek' sesekali, agar tetap terlihat tegar dan tegas.

Pada akhirnya, kita semua memang tak ada yang sempurna, maka tak mengapa bila nanti kamu jumpai lagi kegagalan, kesalahan, kealpaan. Tetap percaya diri kedepannya, kesalahan hari ini bukan awal yang buruk. Bisa jadi ia justru menjadi penunjuk kunci kesuksesan, masa depan yang lebih baik. Yang penting kita selalu sadar untuk belajar. Tetap semangat"

Ya. Beliau tahu sekali rasanya isi hatiku. Entah aku yang takut mengecewakan, karena ini proyek bersama. Entah karena aku yang berusaha ingin sempurna, sehingga takut jika tertinggal jauh. Entah karena aku yang merasa sudah melakukan hal benar.
Ah, terimakasih juga untuk ibu baik hati dan teman-teman yang bantu menyemangati.
Semoga ini menjadi awal yang baik :)

Aku menulis ini, berharap semoga ada yang bisa bermanfaat.
Setidaknya semoga merubahku lebih baik kedepannya.
Maaf jika tulisannya panjang sekali, tapi inilah caraku mengikat ilmu. Dengan menuliskannya.
Terimakasih banyak terutama untuk dosen favoritku atas ilmu eksakta dan ilmu kehidupannya..
Ibu Maria Ulfah, jazaakillaah khayran katsiran ~