Saturday, August 22, 2015

Maukah kau dengar?


Sebelum bertemu dengan baris kelima dari cerita Suku Bukit Pasir**, aku sempat bertanya sejenak dalam hati.
Hei, bukankah sering sekali kita memanjatkan doa yang sama kepada Tuhan kita? Terus berulang-ulang seperti kaset rusak yang diputar.
Untung saja Tuhan kita tidak sama dengan ciptaan-Nya, manusia.
Yang kadang mendengar permintaan diulang sampai 23 kali saja mungkin sudah bosan bukan kepalang. Bisa jadi malah siap-siap ambil jurus menghindar dengar putaran kaset rusak kita, berusaha kabur dengan ribuan alasan.
Atau jika ekstrim, boleh jadi sudah siap dengan gagang sapu ditangan. Tidak, tidak, bukan untuk diterbangkan, anggap saja kita diminta melakukan sesuatu yang konkret dulu sebelum banyak merengek. Menyapu halaman sampai putaran yang sama mungkin saja berhasil membuat kita akan berfikir untuk berhenti mengulang. Ah, ya, semoga orang-orang tersayang disekeliling, masih terus sabar menghadapi kita.
Dan begitulah. Syukurnya Tuhan kita, Allah, Maha Mendengar. Tak peduli sudah jutaan kali kita mengulang-ulangnya selama hidup. Hitung saja jika minimal kita mengucapkannya 5 kali sehari. Mulai dari umur berapa kita paham untuk berdoa? Sungguh, milyaran kali pun, bahkan Dia justru amat senang, mensyukuri penghambaan kita. Dan tentu saja, Allah Maha Malu juga untuk tidak mengabulkan doa-doa kita yang sampai bersungguh hati menadahkan tangan dan bersimpuh kepada-Nya. Dan memang benar, ketidaksukaanNya adalah jika kita sombong tak mau berdoa. Padahal sungguh, kita benar-benar makhluk yang lemah tanpaNya.
Maka dari itu, jangan bosan tuk terus berdoa. Harapkan kebaikan yang tak jemu-jemu, untuk kini dan nanti.
Pun juga, jika Allah yang Maha sibuk mengatur semua urusan ciptaanNya saja masih senang mendengarkan keluh kesah kita, maka apalagi alasan kita untuk tidak berusaha mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan orang lain.
Jelas, karena dengan belajar menjadi pendengar yang baik, bisa nyaman sekali situasinya. Tidak ada yang mesti tersakiti bila ucapannya disela atau ditinggalkan begitu saja. Saling menghargai untuk tidak terlalu mendominasi hingga tak memberi kesempatan yang lainnya bicara. Atau siapa tahu memang ada yang dapat dipetik atas apa-apa yang didengar. Bagus sekali jika solusi bisa diberikan usai masalah saudara kita dengarkan. Lebih hebatnya lagi, jika kita bisa mendengar dan taat atas perintah yang arah alirnya bermuara pada maksud untuk kebaikan hidup kita sendiri.
Ya. Sami'na wa atha'na. Dengar dan taat kepada Allah dan rasul-Nya.
Baiklah, mulai dari sekarang, maukah kita belajar jadi pendengar-Nya yang baik? Menjadi pendengar Dia yang juga tak bosan mendengarkan pinta kita. Maukah kita? Simpan jawaban masing-masing, semoga diakhir nanti kita bisa membuktikannya. Semoga nanti kita tidak senelangsa mereka, Suku Bukit Pasir yang tak mau mendengar juga taat kepada Allah dan utusan-Nya.
*IRIS
**Maksudnya adalah ayat kelima QS Al-Ahqaf. Maaf jika kurang berkenan, ini hanya pengertian lain dari saya, atas surat yang menceritakan kaum 'Ad yang tidak ingin mendengarkan dan taat setelah diingatkan tentang bukit-bukit pasir. Syukur bila ada yang bisa meluruskan, atau menambahkan yang benar. Danke, terimakasih sudah membaca.

Yang sederhana, yang menakjubkan.


Ada yang sudah baca novel Bidadari-bidadari Surga, dari Tere Liye?
Baik, untuk yang sudah baca, kalian masih ingat tentang pembicaraan di simposium fisika Dali?
Aku sepakat, dari dulu, selalu ada teknologi hebat di alam semesta ini.
Dan dari satu nama, aku yakin di masanya, sungguh peradaban yang ada pastilah sangat maju. Ialah beliau, nabi Sulaiman as. Banyak sekali teknologi hebat dicerita zaman kerajaannya. Bahkan mungkin diluar kemampuan berpikir manusia zaman ini.

Di qur'an surat An-Naml ayat 40, misal. Benar ada manusia yang bisa memindahkan sesuatu yang besar sebelum mata berkedip, mungkin saja sepersekian detik. Sungguh, teknologi mutakhir saat ini saja aku belum yakin ada yang bisa menandinginya. Transformasi satu tempat ke tempat lain, aku terakhir melihatnya di film animasi robot putih gemuk "BM". Dan sekali lagi, jelas, itu masih sebatas animasi.
Ya, ya. Di Al-qur'an ada banyak sekali teknologi tercanggih yang menyibakkan hal-hal hebat di alam semesta ini. Entah itu dengan penemuan jasad Fir'aun, yang memang diceritakan di Al-Qur'an. Entah tentang bulan yang terbelah. Entah tentang api yang berubah dingin. Tentang dua jenis air yang saling bertemu namun tidak tercampur satu sama lain (untuk satu ini aku benar sangat penasaran, apa jangan-jangan ada selaput membran yang tipis sekali namun kuat untuk menahan percampuran, entahlah), atau tentang teori gunung-gunung yang sebenarnya tak pernah berdiam diri ditempatnya, atau rasa penasaranku tentang jenis labu yang mengobati nabi Yunus, yang sampai diturunkan Allah firmannya di Alqur'an (aku merasa ada khasiat hebat, karena sampai dicantumkan di Qur'an), atau yang terakhir paling membuatku penasaran akhir-akhir ini.
Aku tak peduli jika banyak orang menganggapnya sihir atau apalah. Mungkin karena, semua teknologi hebat itu hanya Allah yang memiliki. Sedang kemampuan berpikir manusia ini tidak sebanding atas rasionalitas maha sempurna dari Tuhan satu-satunya kita di Islam ini.
Baik, dari semua hal yang mungkin sebagian orang bilang tidak masuk akal. Ijinkan aku mengingatkan sesuatu. Ini hanya teknologi sederhana dizaman sekarang. Tentang kaca.
Sederhana sekali bagi segelintir orang zaman ini.
Tapi, tentu saja tidak untuk ribuan tahun yang lalu.
Aku benar penasaran setelah membaca QS An-naml: 44. Dimana balqis mengira perlu menyingkapkan betisnya karena hendak melewati kolam air besar saat masuk ke kerajaan Sulaiman as. Namun, segera dikatakan nabi bahwa itu hanya lantai yang dilapisi kaca.
Sadar bahwa ada bukti-bukti kehebatan yang membersamai nabi Sulaiman, Balqis pun meyakini tentang kekuasaan Allah dan dia beriman. Dari satu tanda itu, hal kecil yang sering sekali kita temui dizaman ini. Kaca.
Sebenarnya, boleh jadi kita berulangkali membacanya di Qur'an. Hanya mungkin kita abai untuk banyak hal.
Dan, aku, setelah beberapa hari lalu melihat video impian masa depan perusahaan Corning yang awal mulanya bergerak dibidang produksi gelas. Satu dua mulai teringat tentang teknologi kaca di era kepemimpinan nabi kita, Sulaiman as.
Mungkin pagi ini aku hanya berusaha mencari, sejarah ditemukannya kaca bening (transparan). Aku hendak membandingkan dengan tahun kerajaan nabi Sulaiman. Dan dari apa yang kubaca, bahkan untuk teknologi kacamata yang tidak begitu bening saja baru ditemukan di abad ke 16 di Jerman. Lalu, bukankah benar sangat amat hebat, untuk beribu tahun sebelumnya, justru sudah ditemukan kolam air dibawah lantai dilapis kaca. Yang orang melihat saking transparannya, kalau diiklan sekarang jargonnya bilang "bersih bening, seperti tanpa kaca" sampai hendak menyingsingkan pakaiannya agar tak basah terkena air kolam karena mengira tak ada kaca diatasnya.
Masya Allaah, laa haula wa laa quwwata illa billaah.. Yang sesederhana itu dizaman ini, sampai membuat Ratu Balqis terketuk untuk beriman. Lalu kenapa kita tidak terketuk untuk menambah keimanan dihati jika benar kita percaya juga pada Al-Qur'an, kalam Dia sang pemilik semua teknologi terhebat?
"Katakanlah, 'Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur"
(QS Al-Mulk: 23)
Semoga kita selalu berusaha menggunakan apa yang telah dikaruniakanNya untuk mengambil pelajaran agar bisa terus bersyukur.
*IRIS
**Jangan pernah berhenti menunjukkan bahwa kita kaum terbaik. Yang di anugerahi kitab-Nya dan juga Rasul yang dengan semua contoh tindakannya sebenarnya bisa membentuk karakter manusia yang benar-benar hebat. Inilah, karena kita adalah seorang muslim. Yang tatacara kehidupan terbaik sudah diajarkan Yang Maha Menciptakan dan Maha Mengetahui seluk beluk ciptaanNya di kehidupan ini.
Tetaplah selalu, proud to be muslim.

Foto Indes Rienera.

Berhenti

"Di jalan yang tak berujung ini, berhentilah mencari. Maka dengan sendirinya, kita telah tiba di ujung perjalanan".

Tentang relativitas, salah satu anugerah Tuhan di dunia yang juga menakjubkan. Maka dalam urusan relativitas ini, hanya jiwa yang selalu menjadi ukuran. Semoga kita selalu membiarkan perasaan cukup bersemayam dihati. Menemani langkah dalam perjalanan tak berujung ini. Hingga kita senantiasa tahu untuk berhenti duduk mensyukuri segala hal yang telah dimiliki.
*IRIS, dan kutipan dari catatan lama, Tere Liye.

Tidak sekedar 'beyond expectation'

Ini cerita waktu masih iseng-isengnya dulu sih. Setelah baca tulisannya ustadz Salim tentang nazhar. Mm, sedikit pengetahuan dari saya yang terbatas ini, nazhar itu maksudnya 'melihat' si calon teman hidup kelak sebelum benar dilamar. Istilahnya biar gak kayak ngambil kucing dalam karung. Jadi kenal singkat sesaat tapi yang bisa mencondongkan hati. Eh, gak apa-apa kan ya sesekali bahas ini juga. Saya pikir ini juga agak penting buat yang ingin meneruskan jejak sunnah rasul, menikah. Nanti jika sudah saatnya.

Nah, jadi di web nya ustadz itu ada kisah tentang seseorang laki-laki. (Ini kisah nyata kalau di tulisan itu bilang). Lelaki itu punya satu kriteria buat calon ibu anak-anaknya nanti. Dia cuma peduli syarat satu itu saja. Pernah menjadi guru bimbingan minimal 3 kelompok saja. Jadi, ditemukanlah dia dengan wanita yg sesuai kriterianya. Ketika berdialog bersama, si wanita itu jujur terang-terangan mengakui hal pertama, dia tidak pandai masak. Pria itu memang agak nelan ludah dicerita, untuk lalu mengatakan 'tenang, di jogja banyak warung makan'. Baik, si perempuan setuju. Tapi kemudian mengatakan dengan jujurnya fakta kedua, dia tidak bisa mencuci baju. Lagi-lagi si pria diuji. Dan karena memang syarat satu-satunya sudah dimiliki wanita ini, dia lalu bersabar dengan bilang, 'tidak apa-apa, di jogja juga banyak laundry-an'. Jadi, baginya ini bukan hal yang kalau kebanyakan kita bilang kebangetan. Dia, pria ini justru menerima apa adanya. Dan beberapa waktu kemudian, diceritakan ust Salim, ternyata masakan si wanita ini bisa lezat sekali diluar yang dibayangkan si pria. Ini karena kekuatan ketulusan dari keputusan lelaki tadi. Jadilah, demi membahagiakan keluarga kecil barunya, si wanita bersungguh-sungguh belajar untuk memberikan yang terbaik. Ya, ini kado 'beyond expectation' untuk si pria tulus satu itu.

And then, kembali ke awal. Ku ceritakan sesuatu yang kulakukan saat masih iseng-isengnya tahun 2013 dulu. Dari tulisan nazhar itu, aku jadi berkeinginan untuk survei. Dasar iseng, survei begitu juga tidak jelas buat apa. Jadilah, kutanyakan saja demikian kepada beberapa kenalanku. Dan ternyata, mereka banyak yang bilang tidak apa-apa, tidak masalah karena perjalanan panjang masih bisa belajar, ada juga yang bilang nanti bisa ke warung, bisa pekerjakan asisten rumah tangga dan jawaban hampir serupa lainnya. Namun, dari kesemuanya, ada satu jawaban yang benar-benar 'beyond expectation'. Tidak kusangka. Dan poin jawaban itu justru seolah memberikan pertanyaan balik kepadaku. Dibuka dengan tawa, beliau bilang
"Ya lucu banget dek survei kamu itu. Masak ada perempuan gak bisa masak sama nyuci mau ke jenjang kenal itu?" Lalu mengatakan lagi kalau hal tsb hampir tidak mungkin menurutnya. Apalagi dilihat secara ideologis, perempuan yang lewat jalan itu sedikit banyak pasti bisalah. Dia tau cara yang baik, pastinya dia taulah calon ibu yang baik bagaimana.

Dan aku, merasa bodoh saat membacanya waktu itu. Ingin sekali bilang, aku baru saja baca memang ada kisahnya. Tapi, hei kawan, bukankah yang dikatakannya itu memang benar? Saat kita ingin yang terbaik, kita juga harus berikan yang terbaik pula bukan? Tidak, tidak. Bukan sekedar tentang pasangan kelak, tapi generasi penerus terbaik. Kita calon orangtua, kunci terdekat mereka kan? Oke, tak perlu jauh-jauh, untuk adik kita misalnya. Ingin mereka lebih baik dari kita kan?? Maka ayo kita mulai beri contoh kepada mereka.
Dik, hari ini dan seterusnya, kakak akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian. Katakan dan teladankan. Sungguh, semoga kita selalu berhasil menjadi kunci pembuka kebaikan dan kehebatan 'beyond expectation' mereka yang kita sayangi.
Semoga kita juga tidak tega pula membiarkan mereka, orang-orang yang disayangi, menerima kita apa adanya. Walau sebenarnya, boleh jadi mereka tetap bisa berlapang dada.
At least, let us say to them "I'm not the best, but I will give the best for you".
Ya, mari bersemangat tuk memberikan kebaikan yang berkuadrat dan terus menguadrat hingga kelak dihadapanNya, hadiah terindah itu dihadirkan. Tidak lagi sekadar 'beyond expectation'.
Selamat siang!

*IRIS
**gambarnya dari Megha Aiytes.
*** kata 'beyond expectation', dikutip dari catatan lama Tere Liye. Dipadukan dengan coretan masa lampau. Semoga benar bisa applicated, apalagi untuk si penulisnya ini. Thanks for reading,


Membiarkan pergi


Baiklah, kita buka cerita pagi ini dengan satu perumpamaan dari Tere liye, yang ku share kemarin. Tidak tahu kenapa ingin sekali membagikannya. Padahal jarang benar aku mau repost quote-quote tentang 'seperti itu'. Dan ternyata hari ini, aku ingin sedikit melebarkan maksud permisalan tsb. Tentang membiarkan pergi sesuatu.

"Membiarkan pergi itu sama seperti kita berdiri di halte, lantas setelah ditunggu lama, sebuah bus mendekat, penumpang naik, bus beranjak jalan, menjauh, dan kita tetap berdiri di halte tersebut. Menatapnya dengan segenap perasaan.

Membiarkan pergi adalah salah satu cabang perasaan sejati. Seberapa lama pun kita telah menunggu bus itu, seberapa penting urusan kita, namun kita, membiarkan pergi dgn ikhlas, karena boleh jadi itu keputusan terbaik atas nama kehormatan perasaan."

Ya. Mungkin cerita kita pagi ini, bukan tentang perasaan dengan lawan jenis.
Nah, apa ada yang ingin bertanya atas perumpamaan diatas? Atau bahkan mangkel? Menganggap bodoh orang yang membiarkan perginya bus itu dengan segala waktu dan kepentingan yang dimilikinya. Adakah yang sempat berpikir demikian? Karena aku juga memang sempat terbetik pemikiran seperti itu. Bodoh sekali rasanya melewatkan kesempatan yang ada, yang begitu dekat, yang dinanti-nanti setelah perjuangan kesabaran menunggu. Hanya demi sesuatu, yang bahkan dimasa depan belum tentu semuanya akan menguntungkannya kembali. Apa masih ada orang-orang seperti itu?

Tapi ternyata kawan, aku benar lebih merasa bodoh. Saat pagi ini aku baru menyadari. Dalam hidupku, begitu banyak orang yang membiarkan pergi sesuatu miliknya. Ya. Mereka melewatkan kesempatan baik demi yang lainnya. Melepaskan untuk mempertahankan yang satunya. Memberikan kesempatan bagi yang lain untuk tetap dapat berdiri. Termasuk pada keluarga kecil kami.

Tidak. Aku yakin yang mereka lepas bukan sesuatu yang biasa saja. Bisa jadi itu merupakan hasil perjuangan, kerja keras. Atau boleh jadi itu merupakan kesempatan yang dinanti-nanti, peluang yang bahkan sungguh diharapkan. Tapi, sebuah perasaan sejati mengalahkan itu semua. Ialah dia, perasaan yang benar percaya kepada Tuhannya. Adalah ia, perasaan yang tersebab kecintaan pada Rabbnya.

Mungkin benar, yang terlihat atau yang menjadi jalan mereka berbuat demikian didunia ini, belum tentu bisa memberikan keuntungan balik saat sekarang. Namun, sungguh, pengorbanan mereka hampir layaknya orang yang berkurban. Ya. Bukan kurban mereka yang sampai kepada Tuhannya, melainkan ketaqwaan yang dimiliki. Begitu pula mereka yang membiarkan pergi sesuatu miliknya. Entah itu jiwa, harta, tenaga, bahkan waktu yang berharga miliknya. Sungguh, keimanan mereka pasti akan sampai kepada Rabbnya. Dan sungguh, pasti tak ada ganti yang lebih baik dari-Nya yang Maha mensyukuri hamba-hambaNya.


**Mulanya aku teringat seorang ibu-ibu yang membiarkan pergi kesempatannya karena aku. Tapi, tersadar, sungguh amat banyak hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Teruntuk semua, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian. Jazaakallaah khayran katsiir. Semoga kedepan kita semua, terutama diriku, senantiasa bisa belajar seperti mereka yang berani membiarkan pergi.

Yang sederhana, jangan dibuat rumit


Hari ini, mungkin saja kita sebenarnya berhak marah.
Sore ini, bisa jadi kita sesungguhnya diperbolehkan kesal.

Tapi buat apa?

Semuanya akan lebih sederhana ketika kita bisa menerima dengan lapang.
Segalanya akan lebih sederhana saat kita mampu mengendalikan hati.
Jangan buang energi dengan marah, kesal. Walau kita boleh sekali mencak-mencak tidak terima. Tapi sekali lagi, untuk apa kita marah?
Lebih baik kita segera lakukan hal yang justru bisa meringankan masalah. Dan tara, semuanya justru akan segera membaik.

Sungguh, yang sederhana, jangan dibuat rumit.
Sekali lagi sungguh, bukan karena kita sok ingin bahagia selalu. Tapi, ingatlah, mungkin dilain kesempatan kita pernah sebegitu menyebalkannya bagi orang-orang.
Kalau mereka mau belajar menerima kita, lalu kenapa kita tidak?

Yang sederhana jangan dibuat rumit.
Selalu begitu.

Sajak tidak tahu

Kadang kita tidak tahu.
Ketika meminta sesuatu, rezeki misalnya. Namun, ternyata, saat yang diminta telah hadir, kita justru sibuk hingga melupakan Sang Pemberi. Bahkan, boleh jadi kita merasa masih kurang ini itu.

Kadang kita tidak tahu.
Hari ini atau esok lusa, bisa jadi, Allah membiarkan kita tuk belajar menunggu sebentar. Agar kita bisa lebih baik lagi menerima sesuatu dan mensyukurinya dengan baik.

Inilah sajak ketidaktahuan yang menggantung. Karena si penulisnya tidak tahu lagi apa yang hendak ditulis. Tapi sungguh, jangan berhenti tuk menggantungkan harapan kepada Allah. Satu-satunya Tuhan tempat bergantung segala makhluk.

Pohon Tauge

Tauge itu segar sekali ketika sedang tumbuh. Maka hati-hati. Dia mudah sekali layu terkena panas.
Imanmu itu harusnya juga segar selalu seperti tauge tsb. Maka hati-hati. Jangan keringkan dia dengan hal-hal yang menimbulkan potensi tercipratnya api neraka.

Sungguh, hati-hati.
Simpan pohon taugemu baik-baik.
 

***
Ini sajak pengingat. Semoga jika diri kembali asyik bergurau dijalan salah lagi, segera ingat tuk mengakhiri secepatnya. Agar tidak kering kerontang iman di hati, seperti yang guru kita bilang.