Saturday, August 22, 2015

Membiarkan pergi


Baiklah, kita buka cerita pagi ini dengan satu perumpamaan dari Tere liye, yang ku share kemarin. Tidak tahu kenapa ingin sekali membagikannya. Padahal jarang benar aku mau repost quote-quote tentang 'seperti itu'. Dan ternyata hari ini, aku ingin sedikit melebarkan maksud permisalan tsb. Tentang membiarkan pergi sesuatu.

"Membiarkan pergi itu sama seperti kita berdiri di halte, lantas setelah ditunggu lama, sebuah bus mendekat, penumpang naik, bus beranjak jalan, menjauh, dan kita tetap berdiri di halte tersebut. Menatapnya dengan segenap perasaan.

Membiarkan pergi adalah salah satu cabang perasaan sejati. Seberapa lama pun kita telah menunggu bus itu, seberapa penting urusan kita, namun kita, membiarkan pergi dgn ikhlas, karena boleh jadi itu keputusan terbaik atas nama kehormatan perasaan."

Ya. Mungkin cerita kita pagi ini, bukan tentang perasaan dengan lawan jenis.
Nah, apa ada yang ingin bertanya atas perumpamaan diatas? Atau bahkan mangkel? Menganggap bodoh orang yang membiarkan perginya bus itu dengan segala waktu dan kepentingan yang dimilikinya. Adakah yang sempat berpikir demikian? Karena aku juga memang sempat terbetik pemikiran seperti itu. Bodoh sekali rasanya melewatkan kesempatan yang ada, yang begitu dekat, yang dinanti-nanti setelah perjuangan kesabaran menunggu. Hanya demi sesuatu, yang bahkan dimasa depan belum tentu semuanya akan menguntungkannya kembali. Apa masih ada orang-orang seperti itu?

Tapi ternyata kawan, aku benar lebih merasa bodoh. Saat pagi ini aku baru menyadari. Dalam hidupku, begitu banyak orang yang membiarkan pergi sesuatu miliknya. Ya. Mereka melewatkan kesempatan baik demi yang lainnya. Melepaskan untuk mempertahankan yang satunya. Memberikan kesempatan bagi yang lain untuk tetap dapat berdiri. Termasuk pada keluarga kecil kami.

Tidak. Aku yakin yang mereka lepas bukan sesuatu yang biasa saja. Bisa jadi itu merupakan hasil perjuangan, kerja keras. Atau boleh jadi itu merupakan kesempatan yang dinanti-nanti, peluang yang bahkan sungguh diharapkan. Tapi, sebuah perasaan sejati mengalahkan itu semua. Ialah dia, perasaan yang benar percaya kepada Tuhannya. Adalah ia, perasaan yang tersebab kecintaan pada Rabbnya.

Mungkin benar, yang terlihat atau yang menjadi jalan mereka berbuat demikian didunia ini, belum tentu bisa memberikan keuntungan balik saat sekarang. Namun, sungguh, pengorbanan mereka hampir layaknya orang yang berkurban. Ya. Bukan kurban mereka yang sampai kepada Tuhannya, melainkan ketaqwaan yang dimiliki. Begitu pula mereka yang membiarkan pergi sesuatu miliknya. Entah itu jiwa, harta, tenaga, bahkan waktu yang berharga miliknya. Sungguh, keimanan mereka pasti akan sampai kepada Rabbnya. Dan sungguh, pasti tak ada ganti yang lebih baik dari-Nya yang Maha mensyukuri hamba-hambaNya.


**Mulanya aku teringat seorang ibu-ibu yang membiarkan pergi kesempatannya karena aku. Tapi, tersadar, sungguh amat banyak hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Teruntuk semua, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian. Jazaakallaah khayran katsiir. Semoga kedepan kita semua, terutama diriku, senantiasa bisa belajar seperti mereka yang berani membiarkan pergi.