Thursday, May 14, 2015

Pendidikan mental & moral untukmu, Nak..

Masa-masa percobaan pertama, aku membuat kesalahan.
Setelah berusaha menahannya begitu lama, ketika berjumpa lagi dengan beliau, air mataku akhirnya tumpah tak tertahankan.
Ah malunya aku, sampai beliau--dosen favoritku itu--ikut mengusap bulir air yang masih tersisa di pipi itu.

Pagi kemarin itulah, aku mendapatkan pendidikan mental tersebut.
Aku diajak beliau duduk kemudian, seakan hendak berbicara pada anak perempuannya sendiri.

"Nak, kesalahan, kegagalan itu hal biasa. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.
Kita semua perlu proses, jalani saja dahulu yg sekarang kamu bisa lakukan.
Jangan merasa bersalah, jangan merasa mengecewakan, jangan takut tertinggal, jangan terburu-buru karena melihat teman-teman lain sudah banyak yang penelitian. Kita semua punya prosesnya, nikmati dan jalani saja."

Beliau juga pernah mengalami yang lebih pahit. Seharian mengerjakan penelitian ini itu, tapi pada akhirnya tak ada hasil. Tak sesuai dengan yg diharapkan dan dibayangkan dosen pembimbing beliau juga. Padahal sudah merasa benar yang dilakukan.

"Temanmu itu juga, dia justru sudah mengalami yang kamu rasakan. Dia juga takut, sudah bahannya lebih mahal, susah didapatkan, berkali-kali gagal pula,tapi tidak mengapa. Justru itulah yang lebih baik, lebih menyenangkan saya. Kita semua jadi bisa merasa belajar. Belajar untuk mencari yang lebih benar.
Sama seperti proposal. Tanda tangan dosen pembimbing itu mudah sekali saya berikan. Tanda tangan tinggal ditanda tangani saja. Tapi, jika saya langsung tandatangani, apa kalian akan tahu mana yang salah, mana yg lebih baik. Apa kalian akan mudah mendekati sesuatu yg benar, mendapatkannya? Maka disinilah kita sama-sama belajar untuk mendapatkan yang lebih baik.

"Kamu tahu, Nak. Saya selama menempuh pendidikan tak pernah mengalami hambatan. Tapi, justru ketika mulai memasuki dunia kerja, ujian itu mulai datang. Kita melakukan ini-itu serba salah. Padahal saat dia merekrut kita, seharusnya dia percaya kita mampu, kan.
Nah, yang harus kamu ingat adalah, ketika sesuatu/seseorang mempercayaimu, memintamu bekerjasama untuknya, maka percaya diri sajalah. Terkadang kita juga perlu 'ndhablek' sesekali, agar tetap terlihat tegar dan tegas.

Pada akhirnya, kita semua memang tak ada yang sempurna, maka tak mengapa bila nanti kamu jumpai lagi kegagalan, kesalahan, kealpaan. Tetap percaya diri kedepannya, kesalahan hari ini bukan awal yang buruk. Bisa jadi ia justru menjadi penunjuk kunci kesuksesan, masa depan yang lebih baik. Yang penting kita selalu sadar untuk belajar. Tetap semangat"

Ya. Beliau tahu sekali rasanya isi hatiku. Entah aku yang takut mengecewakan, karena ini proyek bersama. Entah karena aku yang berusaha ingin sempurna, sehingga takut jika tertinggal jauh. Entah karena aku yang merasa sudah melakukan hal benar.
Ah, terimakasih juga untuk ibu baik hati dan teman-teman yang bantu menyemangati.
Semoga ini menjadi awal yang baik :)

Aku menulis ini, berharap semoga ada yang bisa bermanfaat.
Setidaknya semoga merubahku lebih baik kedepannya.
Maaf jika tulisannya panjang sekali, tapi inilah caraku mengikat ilmu. Dengan menuliskannya.
Terimakasih banyak terutama untuk dosen favoritku atas ilmu eksakta dan ilmu kehidupannya..
Ibu Maria Ulfah, jazaakillaah khayran katsiran ~