Masa-masa percobaan pertama, aku membuat kesalahan.
Setelah berusaha
menahannya begitu lama, ketika berjumpa lagi dengan beliau, air mataku
akhirnya tumpah tak tertahankan.
Ah malunya aku, sampai beliau--dosen favoritku itu--ikut mengusap bulir air yang masih tersisa di pipi itu.
Pagi kemarin itulah, aku mendapatkan pendidikan mental tersebut.
Aku diajak beliau duduk kemudian, seakan hendak berbicara pada anak perempuannya sendiri.
"Nak, kesalahan, kegagalan itu hal biasa. Jangan terlalu menyalahkan
diri sendiri.
Kita semua perlu proses, jalani saja dahulu yg sekarang
kamu bisa lakukan.
Jangan merasa bersalah, jangan merasa
mengecewakan, jangan takut tertinggal, jangan terburu-buru karena
melihat teman-teman lain sudah banyak yang penelitian. Kita semua punya
prosesnya, nikmati dan jalani saja."
Beliau juga pernah mengalami
yang lebih pahit. Seharian mengerjakan penelitian ini itu, tapi pada
akhirnya tak ada hasil. Tak sesuai dengan yg diharapkan dan dibayangkan
dosen pembimbing beliau juga. Padahal sudah merasa benar yang dilakukan.
"Temanmu itu juga, dia justru sudah mengalami yang kamu rasakan. Dia juga takut, sudah
bahannya lebih mahal, susah didapatkan, berkali-kali gagal pula,tapi tidak mengapa. Justru
itulah yang lebih baik, lebih menyenangkan saya. Kita semua jadi bisa merasa belajar.
Belajar untuk mencari yang lebih benar.
Sama seperti proposal. Tanda
tangan dosen pembimbing itu mudah sekali saya berikan. Tanda tangan
tinggal ditanda tangani saja. Tapi, jika saya langsung tandatangani, apa
kalian akan tahu mana yang salah, mana yg lebih baik. Apa kalian akan
mudah mendekati sesuatu yg benar, mendapatkannya? Maka disinilah kita
sama-sama belajar untuk mendapatkan yang lebih baik.
"Kamu tahu,
Nak. Saya selama menempuh pendidikan tak pernah mengalami hambatan. Tapi,
justru ketika mulai memasuki dunia kerja, ujian itu mulai datang. Kita
melakukan ini-itu serba salah. Padahal saat dia merekrut kita, seharusnya dia percaya kita mampu, kan.
Nah, yang harus kamu ingat adalah, ketika
sesuatu/seseorang mempercayaimu, memintamu bekerjasama untuknya, maka
percaya diri sajalah. Terkadang kita juga perlu 'ndhablek' sesekali,
agar tetap terlihat tegar dan tegas.
Pada akhirnya, kita semua
memang tak ada yang sempurna, maka tak mengapa bila nanti kamu jumpai
lagi kegagalan, kesalahan, kealpaan. Tetap percaya diri kedepannya,
kesalahan hari ini bukan awal yang buruk. Bisa jadi ia justru menjadi
penunjuk kunci kesuksesan, masa depan yang lebih baik. Yang penting kita
selalu sadar untuk belajar. Tetap semangat"
Ya. Beliau tahu
sekali rasanya isi hatiku. Entah aku yang takut mengecewakan, karena ini
proyek bersama. Entah karena aku yang berusaha ingin sempurna, sehingga
takut jika tertinggal jauh. Entah karena aku yang merasa sudah
melakukan hal benar.
Ah, terimakasih juga untuk ibu baik hati dan teman-teman yang bantu menyemangati.
Semoga ini menjadi awal yang baik :)
Aku menulis ini, berharap semoga ada yang bisa bermanfaat.
Setidaknya semoga merubahku lebih baik kedepannya.
Maaf jika tulisannya panjang sekali, tapi inilah caraku mengikat ilmu. Dengan menuliskannya.
Terimakasih banyak terutama untuk dosen favoritku atas ilmu eksakta dan ilmu kehidupannya..
Ibu Maria Ulfah, jazaakillaah khayran katsiran ~